Samsung optimistis fungsi televisi tidak tergantikan ponsel

Jakarta (ANTARA) – Produsen elektronika Samsung Electronics optimistis fungsi perangkat televisi tidak akan tergantikan ponsel pintar untuk menonton film ataupun konten-konten video, bahkan memainkan game digital menyusul kenyamanan pengguna dalam durasi yang lama menatap layar.

“Jumlah orang yang memakai televisi beresolusi tinggi akan semakin bertumbuh dan tidak tergerus pasar ponsel pintar,” ujar Direktur Bisnis Produk Konsumen Samsung Electronics Indonesia Vega Susantyo Adi di Singapura, Selasa.

Vega mengatakan perilaku konsumen perangkat televisi di Indonesia terus bergerak dengan memilih layar yang lebih besar ataupun resolusi tinggi.

“Sebelumnya, konsumen memilih televisi berukuran 32 inci ataupun 42 inci. Saat ini, ukuran seperti itu sudah tidak nyaman untuk mata. Konsumen Tanah Air lebih memilih ukuran televisi 43 inci, 49 inci, hingga 55 inci,” ujarnya.

Produsen asal Korea Selatan itu terus membenamkan teknologi terbaru agar perangkat televisi tidak tertinggal dibanding perangkat ponsel pintarnya.

Setelah memperkenalkan televisi pintar (Smart TV) pada 2014, Samsung juga menyertakan kemampuan pada aplikasi asistensi digital bernama Bixby yang mendukung konektivitas pintar sesuai perkembangan Internet of Things (IoT).

Fungsi perangkat televisi penayang gambar seni berupa televisi bernama The Frame atau produk The Wall yang menjadi panel iklan menjadi strategi Samsung agar produk televisi tidak tenggelam oleh ponsel pintar.

Namun, Manajer Senior Pemasaran TV dan Audio Visual Samsung Electronics Indonesia Ubay Bayanudin mengaku durasi menonton televisi di Indonesia rata-rata 4,5 jam setiap harinya.

“Fungsi televisi sebagai sarana yang menyatukan keluarga di rumah tidak dapat hilang,” ujar Ubay tentang manfaat perangkat televisi.

Ubay lantas memaparkan harga televisi pintar berukuran 65 inci di Indonesia yang semakin menurun sejak 2015 hingga 2018. Pada 2015, televisi pintar 65 inci dijual seharga Rp47,5 juta dan turun menjadi Rp25,1 juta pada 2018.

Selain itu, data penjualan televisi ukuran itu meningkat sebesar 110 persen sejak 2015 ke 2018.

Hanya saja, Samsung Indonesia masih mengakui sejumlah kendala infrastruktur untuk mendukung fitur konektivitas pintar di Tanah Air seperti kecepatan jaringan Internet ataupun jaringan listrik yang belum merata di seluruh daerah.

“Infrastrukur jaringan Internet dan listrik itu sangat penting bagi produk elektronik yang mengarah pada Internet of Things. Tapi, bukan berarti Indonesia tidak bisa. Samsung akan berjalan searah dengan kemajuan infrastruktur teknologi di Indonesia dengan memilih produk yang sesuai dengan pasar Tanah Air,” ujar Vega.

Baca juga: Samsung siap pasarkan TV seharga Rp1,5 miliar di Indonesia

Baca juga: Menjajal Samsung Galaxy Buds

Baca juga: Konektivitas pintar senjata Samsung pada pasar non-ponsel

Pewarta: Imam Santoso
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019